![]() |
Bagi seorang akademisi, ruang pengabdian sering kali dibayangkan berada di desa terpencil, balai pertemuan mitra binaan, atau forum pelatihan terstruktur. Namun, ruang pengabdian sejatinya tidak pernah dibatasi jarak. Sering kali, ruang itu berada tepat di saf salat tempat kita bersujud sehari-hari, di lingkungan tempat kita bertegur sapa dengan para tetangga.
Amanah ganda sebagai dosen Sistem Informasi di Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi sekaligus Sekretaris Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) As-Shiddiq membawa saya pada sebuah perenungan sederhana: bagaimana keilmuan yang setiap hari saya ajarkan di ruang kuliah dapat memberi kemaslahatan nyata di tengah jemaah?
Sebagai dosen, Tridharma Perguruan Tinggi bukan sekadar kepatuhan administratif pada beban kerja dosen (BKD). Pilar Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) adalah jembatan moral agar ilmu pengetahuan tidak mengendap di menara gading kampus, melainkan hidup dan memberi manfaat langsung (nafi’an) bagi umat.
Berangkat dari Kebutuhan Transparansi
Setiap masjid hidup dari amanah umat. Setiap rupiah yang masuk melalui kotak infaq, zakat, maupun sedekah jemaah memuat harapan dan pertanggungjawaban yang berat di hadapan Allah Swt.
Selama ini, laporan keuangan konvensional di papan mading fisik atau buletin Jumat tentu sudah berjalan. Namun, dinamika mobilitas masyarakat perkotaan menuntut akses informasi yang lebih fleksibel. Sebagian jemaah bekerja di luar kawasan, sebagian generasi muda lebih akrab dengan layar gawai, dan publik secara luas membutuhkan keterbukaan informasi yang mudah diverifikasi kapan saja.
![]() |
Dari kegelisahan itulah, inisiatif digitalisasi ini bermula dari meja sekretariat.
Rekayasa Solutif: Efisien, Mandiri, dan Tepat Guna
Sebagai akademisi di bidang sistem informasi, godaan untuk membangun sistem yang kompleks dari nol dengan arsitektur rumit kerap muncul. Namun, dalam konteks organisasi sosial keagamaan berbasis komunitas seperti DKM, prinsip utama rekayasa teknologi adalah: keberlanjutan, kemudahan pemeliharaan (maintainability), dan efisiensi biaya.
Website resmi Masjid As-Shiddiq (yang kini mengudara di masjidasshiddiq.web.id) saya rancang secara mandiri dengan pendekatan low-code infrastructure berbasis Google Sites yang diintegrasikan langsung dengan ekosistem Google Workspace dan domain kustom.
Pilihan teknologi ini bukan tanpa alasan:
- Nol Biaya Server/Hosting: DKM tidak terbebani biaya langganan server bulanan atau tahunan yang mahal.
- Kemudahan Alih Kelola: Integrasi langsung dengan Google Sheets dan Drive memudahkan pengurus sekretariat dan bendahara memperbarui laporan kas mingguan tanpa perlu memahami sintaks pemrograman web.
- Keterandalan & Keamanan: Infrastruktur awan menjamin stabilitas akses jemaah tanpa risiko kerusakan sistem yang rumit.
Fitur awal difokuskan pada kebutuhan esensial jemaah: Beranda, profil pengurus DKM, warta kegiatan, jadwal shalat laporan transparansi keuangan periodik, hingga menu kontak terpadu untuk fardhu kifayah dan layanan umat.
Restu dan Peluncuran Ba’da Magrib
Selasa malam, 22 September 2026, menjadi momentum yang berkesan. Ba’da Magrib di hadapan para jemaah, inisiatif mandiri dari sekretariat ini resmi diluncurkan langsung oleh Ketua DKM As-Shiddiq, Bapak Ir. H. Rheinfreidi.
Melihat apresiasi hangat dari pengurus dan binar antusias jemaah saat mencoba memindai dan membuka situs dari ponsel masing-masing menghadirkan kebahagiaan batin yang sulit diukur dengan angka. Bagi saya, peluncuran ini membuktikan bahwa adaptasi teknologi di lingkungan masjid bukanlah hal yang eksklusif atau rumit, asalkan dibangun berangkat dari empati terhadap kebutuhan umat.
Jejak Langkah ke Depan
Tentu portal ini masih berada pada rilis versi awal. Jalan penyempurnaan masih panjang, mulai dari integrasi sistem pendaftaran dakwah, publikasi risalah keagamaan, hingga digitalisasi layanan sosial masjid lainnya.
![]() |
Bagi saya pribadi, proyek ini menjadi pengingat berharga: bahwa teknologi informasi pada hakikatnya hanyalah wasilah (alat). Nilai sejatinya terletak pada bagaimana ia mampu mempererat silaturahmi, menegakkan prinsip amanah (kejujuran), dan memfasilitasi kemakmuran rumah Allah.
Semoga langkah kecil ini dicatat sebagai amal jariah, sekaligus bukti baktiku yang tulus dari almamater UIN STS Jambi untuk masyarakat.



.jpeg)



